Minggu, 24 Maret 2013

Ora et Labora: Etos Hidup Harmoni

Ora et Labora: Etos Hidup Harmoni

 

 Ora et Labora adalah sebuah adagium klasik dari para biarawan yang hidup menyepi dalam keheningan doa dan menghidupi diri mereka dengan tetap bekerja melalui kerajinan tangan. Ora artinya berdoa. Labora artinya bekerja. Jika hanya berdoa saja memang tidak bisa mengubah keadaan. Dengan bekerja saja, tanpa berdoa, tidak ada spirit yang menjiwai kerja.

Suatu ketika, seorang dosen filsafatku, yang jebolan Jerman, bertutur di kelas: “Kitab Suciku adalah buku ini (sambil mengangkat bukunya Habermas yang setebal Kitab Suci). Bagiku akal budi (rasio) adalah yang terpenting dalam hidup. Sejak saat aku mengenal Filsafat, aku tidak pernah mau berdoa lagi. Mengapa? Karena berdoa bagiku adalah sebuah tindakan IRASIONAL dan KONTRADIKSI INTERMINUS. Jika Tuhan menciptakan akal budi, mengapa aku harus berdoa? Aku harus mengoptimalkan akal budiku yang adalah ciptaan Allah (bagi mereka yang meyakininya) untuk mengusahakan segala kebutuhanku dan menciptakan dunia yang lebih baik. Inilah yang bagiku merupakan pencerahan terbaik abad ini yang dilakukan oleh Habermas, guruku.
Akan tetapi, aku kecewa berat, ketika dalam suatu dialog terbuka Habermas dengan Ratzinger (yang sekarang ini menjadi Paus Benediktus XVI), Habermas bertekuk lutut dan mengakui bahwa ternyata dunia ini penuh dengan kenyataan misteri dan spiritual, dimana rasio tidak bisa merambah semuanya. Pada titik tertentu rasio harus berhenti dan memberi ruang bagi iman.” Lalu seorang kawanku nyeletuk: “kalau gempa berkekuatan tinggi mengguncang apartemen eksklusif bapak sementara bapak berada di lantai 10, apakah yang bapa lakukan pada saat panik?Ruangan kuliah menjadi sunyi…dan terdengar kata-katanya: ’saya akan berkata, semoga Yang Mahakuasa, yang Mengatasi segala akal budiku bisa menghentikannya, karena masih banyak tugas dan rencana yang harus aku kerjakan esok hari.”
Berdoa dan Bekerja merupakan ungkapan orang yang rendah hati yang mau mengakui keterbatasan tangannya, keterbatasan kakinya, keterbatasan akal budinya.Hanya orang yang SUNGGUH-SUNGGUH beriman adalah ORANG YANG RENDAH HATI. Rendah hati adalah disposisi hati orang sederhana, yang menyakini bahwa ada tangan-tangan tersembunyi yang siap menolongnya, meskipun tidak nampak secara kasat mata atau tampak melalui sesama. Ora et labora adalah etos hidup bagi orang yang tidak berpangku tangan dan berdoa saja, karena Tuhan tidak bisa mengambil alih sepenuhnya yang menjadi tanggung jawab makluk ciptaan-Nya.
Berdoa dan bekerja menjadikan energi kerja lebih berlipat ganda, karena kerja merupakan bagian dari doa jika dilakukan dengan kesadaran bahwa semua yang dikerjakan dalam hidup adalah sebagai ucapan syukur dan pujian kepada sumber segala akal, daya, dan karsa manusia. Bekerja tanpa berdoa bagaikan tubuh tanpa jiwa, karena sebagaimana makanan tubuh adalah empat sehat lima sempurna (jika ada), berdoa adalah makanan bagi jiwa. Dengan berdoa dan bekerja yang selalu berjalan beriringan serta saling meresapi, harmoni antara tubuh, pikiran, dan jiwa akan terwujud.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar